Hijrah Ini (Fastaqim Kamaa Umirta)

Momentum waktu kini berganti. Menghampiri kepada mereka yang merasai detik ini. Menemani mereka yang melalui waktu ini. Tapi, waktu tak pernah berkata untuk menunjukkan arti. Karena dalam lautan nikmat, dua makhluk bisa terpisah, yang satu tenggelam dan yang satu lagi menyelam. Yang dialami sama, tapi beda dalam memaknai. Bahkan terlihat bertolak belakang.

Atas momentum yang berganti pula. Seringkali menjadi titik akan memaknai adanya masa yang berbeda. Masa yang terbentuk dalam sebuah rangkaian ruang waktu yang terlewati dan tak akan kembali. Ruang masa itu hanya bisa ditatap, tapi tak bisa dimiliki kembali. Sekuat apapun coba diraih, masa lalu tak akan pernah kembali. Ia telah menjadi sebentuk yang paling jauh dari diri.

Maka, bukankah seharusnya dalam tatapan itu, bukan sekedar perubahan berganti. Tapi mewujud hijrah yang mengevaluasi. Tapi hijrah bukanlah wujud yang separuh atau setengah. Ia menyeluruh. Layaknya dari beku menjadi air, dari cuka menjadi anggur, dari gelap menjadi cahaya, dari kasar menjadi halus. Hijrah bukan setengah, ia… hijrah, begitu kata Ust Rahmat Abdullah, adalah keutuhan harga diri.

Hijrah menjadi bisa bertolak belakang atas ruang masa yang berlalu, bahkan berperang melawannya. Maka ijinkan ku mengambil potret peristiwa yang terkisah dalam sebuah peperangan pasukan muslim yang terbesar melawan pasukan Romawi. Ia adalah panglima perang Romawi ketika itu, Jarajah. Ia menemui pimpinan perang pihak muslim, pedang Allah yang terhunus, Khalid bin Walid seraya berkata.

“Wahai Khalid apa yang kalian serukan?” Khalid menjawab, “Kami menyeru agar manusia bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah HambaNya dan Rasul-Nya. Dan agar mereka membenarkan seluruh syariat yang beliau bawa dari Allah.” Jarajah bertanya, “Bagaimana jika orang itu tidak mau menerima dakwah kalian?” Khalid menjawab, “Maka kami serukan mereka agar mem-bayar upeti, dan kami siap melindungi mereka.” Jarajah bertanya, “Jika mereka tetap tidak mau membayar upeti?” Khalid menjawab, “Maka kami akan mengumumkan perang terhadap mereka.”

Jarajah kembali bertanya, “Apa kedudukan bagi orang yang menerima seruan kalian dan masuk ke dalam agama kalian pada hari ini?” Khalid menjawab, “Kedudukannya sama dengan kami dalam seluruh kewajiban yang dibebankan Allah kepada kami. Orang yang mulia di antara kami, orang biasa, orang yang pertama masuk Islam dan yang terakhir seluruhnya sama kedudukannya. ”

“Apakah orang yang hari ini masuk ke dalam agama kalian akan memiliki ganjaran yang sama dengan yang masuk sebelumnya?” Khalid menjawab, “Ya, bahkan lebih banyak.” Jarajah bertanya, “Bagaimana bisa sama sementara kalian telah mendahului-nya? ”

Khalid menjawab, “Sesunguhnya kami menerima Islam dengan peperangan dan kami membai’at Nabi kami sementara beliau hidup di tengah-tengah kami. Selalu datang kepadanya berita dari langit dan beliau memberitakannya kepada kami al-Qur’an, menunjukkan kepada kami mukjizat-mukjizat. Maka pasti orang yang melihat apa yang telah kami lihat dan mendengar apa yang telah kami dengar tentang hujjah-hujjah dan keajaiban mukjizat akan beriman dan membai’at beliau. Namun kalian tidak melihat apa yang kami lihat, dan belum pernah mendengar apa yang kami dengar mengenai mukjizatnya dan perkara-perkara luar biasa lainnya. Maka barang siapa masuk agama kami dengan niat yang benar dan jujur akan lebih utama dari kami.”

Lalu, seketika itu Jarajah membalikkan sisi perisainya dan masuk ke dalam barisan Khalid, sambil berkata, “Ajarkan aku Islam.” Khalid segera membawanya ke tenda dan menyediakan satu bejana air lalu menyuruhnya mandi, kemudian shalat bersamanya dua raka’at. Dan mereka pun perang bersama melawan pasukkan romawi.

Hijrah Berlanjut, Fastaqim Kamaa Umirta.

Hijrah adalah berlanjut, menyambung keutuhan yang tak kan dan ingin luruh, ketika hijrah telah mewujud menjadi gerak tanpa henti maka tersebutlah istiqamah. Keduanya menjadi estafet yang melanjutkan untuk tak berhenti dan tak kembali ke titik lemah. Tak mudah memang, tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena kedurhakaan masih bisa menyusup dalam waktu. Melemahkan hati atas waktu yang termaksiatkan. .

Atas kelemahan ini, mencoba menguatkan hati. Walau terus belajar, walau harus merangkak. Ingin ku mengingat teladanmu Sang Nabi. Karena istiqamah adalah perintah yang amat berat. Sampai-sampai engkau menjadi beruban rambut karenanya.

Rasulullah saw bersabda: “Surat Hud dan saudara-saudaranya telah menjadikan kepalaku beruban.” (Hadits shahih diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, hadits no. 3219). Hal ini dikarenakan di dalam surat Hud terdapat perintah kepada beliau saw untuk istiqamah, tepatnya pada QS Hud: 112 : Fastaqim kama umirta – “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu”

—-

Ya, mungkin kedurhakaan memang bisa terhapus, tapi tak terganti. Kita memang bisa mengiringi satu keburukan ‘amal dengan kebaikan, agar bisa menghapusnya. Tetapi bukankah kita tak bisa kembali ke waktu yang sama, tenaga yang sama, dan harta yang sama, yang telah terlanjur termaksiatkan untuk membaliknya menjadi kebaikan? Maka aku memohon ampun padaMu Ya Rabbi, ampunan yang membuat tiap dosaku mendekatkanku padaMu – Salim A. Fillah.

T_T

Wallahu a’lam bish-shawab

1 Muharram 1431 H

Referensi :
Al bidayah wan nihayah : Ibnu Katsir
Warisan Sang Murrabi : Ust. Rahmat Abdullah
Catatan Salim A. Fillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *