Ketika Cinta Bertasbih

Tulisan ini hasil inspirasi dari baca novelnya Kang Abik “Ketika Cinta Bertasbih”. Saya buat dengan gaya tulisan saya sendiri. Walau mungkin belum mencakup isi novelnnya. Saya mencoba mengeneralisir. Kebetulah hari ini pas rilis filmnya, jadi sekalian aja saya posting. 🙂

Ketika Cinta Bertasbih

Ketika waktu berlarian, mengejar detik-detik yang semakin menua. Tersadar saat ini berada di ruang dan waktu yang memisahkan beribu jarak antara ketika dimana berasal dan bermula. Kerinduan akan yang tertinggal begitu menyergap. Ada sebuncah rasa yang terkadang mengusik menunggu untuk dilengkapi. Menggenapi sebuah asa akan fitrah diri yang tak mudah untuk terjaga. Tapi sadar, ada amanah yang harus tertunaikan sebelum beranjak lebih jauh. Terasa tak mungkin meninggalkan setengah cita dan amanah atas yang sudah dijalani. Melengkapi satu cita untuk menggenapi hati.

Dalam setiap nafas yang berhembus, selalu mencoba menyandingkan dalam kuasaNya. Dalam setiap langkah yang tertuju, selalu mencoba bersimpuh sujud kepadaNya. Memohon kemudahan karena Dia-lah Maha Mengatur. Walau pula disadari dalam kenikmatan dan kelapangan selalu ada ujian yang kan menyapa. Tak ada yang sempurna, karena jiwa ini rapuh, langkah ini pun kadang melemah. Hanya kepadaNya diri ini kembali menguatkan jiwa dan hati tuk menunaikan amanah mengusir kebimbangan.

Ada semburat cita yang hadir mencari bayangan diri akan melengkapi hati ini. Tapi ketika satu cita teraih, lalu datang cita lain untuk meminta segera ditunaikan. Ikhtiar selalu terikuti dengan tawakal. Layaknya kesetiaan malam mengikuti siang. Kadang berliku, kadang terjatuh. Duka kehilangan pun tak lepas mendatangi, menyelimuti jiwa yang tertunduk. Walau begitu selalu sadar ketetapanNya. KetetapanNya-lah yang selalu berjalan diatas keinginan ini. Lalu ikhlaskan hati dalam rasa syukur dan sabar.

Ketika cita mewujud dalam cinta. Hati ini berdesir ketika sebuncah rasa itu menyapa. Tak pernah kuasa menduganya ketika datang mengetuk hati. Karena rasa itu ialah kehendak dariNya yang membolak balikkan hati ini. Maka dalam panjat doa, tasbih ini terucap mengakui kekuasaanNya. Maka dalam simpuh sujud, tasbih ini terlantun menguatkan hati dan memohon petunjukNya.

Ketika cinta bertasbih… Begitu indah melukiskan cinta….

“… Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar. Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri. Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang. Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang. Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya. Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta. Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya. Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur. Cinta sendirilah yang menerangkan cinta…”

…. maka akan tersebutlah satu nama dalam ketetapanNya. Hanya karenaNya cinta ini bersandar, lalu bertasbih mengakui kebesaranNya… ketika cinta bertasbih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *