Kontribusi Menyejarah

Perjuangan tak kan pernah berhenti menyapa manusia. Manusia yang menyadari akan arti hidup. Menyapa dalam berbagai kondisi dan keadaan, akankah manusia itu membalas sapaan perjuangan? atau hanya berdiam diri terbaring mengacuhkan tanpa bergerak.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna dibanding makhluk ciptaanNya yang lain. Memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi dinamis tidak kaku terpaku akan satu tuju. Tapi manusia juga memiliki kecenderungan untuk berhenti menjauh dari semua yang dilihatnya, menutup diri, acuh tidak mendengarkan, mengeraskan hati akan yang ada disekelilingnya.

Manusia memiliki karunia untuk memuji mengangkat membawa perubahan menjadi lebih baik akan keadaan yang ada disekelilingnya. Tapi manusia juga memiliki keburukan untuk menyakiti, melemahkan, menyuruh berhenti, terperangkap tak pernah berubah hanya mengikuti dan mengikuti lalu mati.

Jika hidup memang adalah karuniaNya, lalu kenapa engkau harus berhenti? Jika hidup memang karuniaNya, lalu kenapa engkau hanya sampai disini?

Manusia terbagi atas dua, manusia yang membuat kisah pribadi dan manusia yang membuat sejarah. Manusia yang membuat kisah pribadi hadir dengan memiliki arah langkah yang kembali kepada dirinya sendiri, bercerita tentang dirinya sendiri, apa yang dilakukan hanya akan berputar pada dirinya kembali. Sementara manusia yang membuat sejarah memiliki langkah yang meluas dan melebar. Kehadirannya adalah untuk orang sekitarnya dalam meraih ridhaNya.

Hari-hari yang terus menggunung. Apakah hanya terakumulasi dengan menghasilkan nilai kosong? Manusia sebagai makhluk sosial bukan hanya sekedar hadir lalu mati. Setiap manusia antara satu dengan yang lain selalu dinanti, kontribusi. Rasulullah dan sahabat-sahabatnya hingga kini kisahnya masih hidup. Mereka tidak hanya sekedar hadir. Mereka berkontribusi, mereka menyejarah.

Apa yang dimaksud dengan menjemput takdir sejarah adalah usaha-usaha yang secara sadar dilakukan, untuk mempertemukan karya diri dengan kebutuhan sekeliling, pada ruang dan waktu yang memayungi momentum tertentu, pada suatu saat dimana kita menembus ruang dan waktu… menyejarah.

Perjuangan bagai air yang mengaliri hidup. Memenuhi rongga-rongga untuk tidak berhenti hingga semuanya terisi. Perjuangan bagai nafas yang berhembus mengisi memberi arti hidup. Hidup yang disadari pemberian dariNya. Hidup yang berisi misi meraih ridhaNya. Hidup yang tak kan berhenti hingga langkah ini menginjakkan kaki di akhiratNya.

Referensi :
Dialog Peradaban : Mencipta Manusia Paripurna. Ary Ginanjar dan Anis Matta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *