Tsa’labah Si Kikir Yang Jatuh Fakir

Seusai shalat berjamaah, Rasul melihat Tsa’labah bin Hatib, seorang fakir, tergesa-gesa keluar dari
mesjid tanpa berdo’a terlebih dahulu. Rasul pun bertanya, “Apa yang menyebabkanmu terburu-buru wahai Tsa’labah?” Tsa’labah menjawab, “Ya Rasulullah, sarungku ini akan dipakai shalat oleh istriku di rumah, karena itu aku harus buru-buru pulang. Coba jika aku punya sarung sendiri, aku akan tenang dan lebih
khusyuk beribadah. Ya Rasulullah, berdo’alah kepada Allah, agar Ia memberikan rizki kepadaku.”

Rasulullah saw kemudian menjawab, “Wahai Tsa’labah! Pemberian yang sedikit namun kau syukuri, jauh lebih baik daripada yang banyak namun tak dapat kau syukuri. Apakah engkau tidak rela menjadi seperti Nabi Allah? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan–Nya, seandainya aku mau gunung-gunung ini menjadi emas dan menjadi milikku, pasti terjadi.” Tsa’labah berkata, ”Demi Allah, seandainya engkau mau memohonkan kepada Allah, kemudian dia memberiku rizki harta benda, sungguh aku akan bersedekah.” Akhirnya Rasulullah pun
mendoakannya. Permohonan beliau pun dikabulkan.

Pada awalnya Tsa’labah memiliki seekor biri-biri betina. Setiap hari diurusnya dengan tekun dan telaten, sehingga biri-biri itupun beranak pinak, semakin banyak. Betapa bahagianya Tsa’labah melihat ternaknya. Ia sering menggembalakan biri-birinya itu ke bukit-bukit di luar Madinah. Akhirnya ia disibukkan dengan pekerjaan
itu, sehingga tidak sempat lagi mengikuti shalat berjamaah. Bahkan, ketika biri-birinya semakin berkembang biak, ia tidak lagi sempat melaksanakan shalat lima waktu, kecuali pada hari jum’at.

Suatu waktu, Rasulullah saw menemui para pedagang yang biasa ke luar kota Madinah untuk menanyakan keadaan Tsa’labah. “Apakah yang dikerjakan Tsa’labah selama ini?” Tanya Rasul. Mereka menceritakan keadaan Tsa’labah. Rasulullah terkejut dan berkata, “Tsa’labah, pada waktu susah engkau rajin beribadah, tapi
setelah harta melimpah engkau lupa.” Ketika itu turunlah ayat yang memberi perintah untuk bersedekah, “Ambillah sedekah dari sebagian harta mereka…” (QS At-Taubah : 103).

Akhirnya Rasulullah saw mengutus dua orang sahabat dari Bani Jahniyah dan bani Salim untuk mengambil
sedekah dari kaum muslimin. Rasulullah saw berkata kepada mereka berdua, “Datangilah Tsa’labah dan setiap orang dari bani Salim, kemudian ambillah sedekah dari mereka.”

Berangkatlah kedua utusan itu menemui Tsa’labah. Ketika tiba, mereka menyampaikan pesan Rasulullah tersebut. Tetapi apa kata Tsa’labah, “Bukankah ini hanyalah semacam upeti? pergilah dulu kepada orang lain, setelah itu baru engkau kemari.” Begitulah Tsa’labah, sampai akhirnya Allah memberikan teguran kepadanya. Usahanya perlahan-lahan mengalami kebangkrutan dan akhirnya ia jatuh miskin.

Pada diri Tsa’labah telah muncul benih-benih kemunafikan, penyakit ini merupakan penyakit rohani yang
membahayakan. Ia telah mengingkari janji, kikir dalam mengeluarkan harta FiSabilillah dan tidak mau mengeluarkan infak.

Ketika susah, ia berniat bersedekah, tapi setelah hartanya melimpah ruah, ia lupa ibadah. Berapa banyak
di antara manusia yang telah diperingatkan Allah akan kenikmatan yang diberikan kepada mereka, tapi mereka tetap keras hati, tidak menerima perintah Allah.

Islam memerintahkan untuk membersihkan harta yang kita miliki dengan sedekah dan zakat. Betapa kita
sombong dengan apa yang kita miliki, kita merasa bahwa semua harta yang kita dapatkan adalah milik kita.

Betapa banyak Tsa’labah-Tsa’labah lain di negeri ini, tinggal di rumah mewah mentereng yang dikelilingi pagar-pagar besi yang tinggi agar terhindar dari “rengekan” pengamen dan pengemis yang mengiba-iba. Bepergian dengan kendaraan mewah, tapi ketika petugas zakat mengetuk pintu rumahnya, “Saya sedang pailit dan banyak utang, mungkin yang lain saja dahulu.” jawabnya enteng.

Ketika mereka menyantap hidangan lezat yang diolah koki ternama di sebuah restoran, pada saat
bersamaan, jutaan penduduk meringis menahan lapar. Pada saat mereka tertidur lelap di sebuah hotel berbintang, ribuan gelandangan menahan dinginnya udara malam dan gigitan nyamuk di bawah jembatan.

Islam telah memberikan tuntunan untuk saling mencintai, mengasihi, dan saling menolong terhadap
sesama. Bagaikan satu tubuh, bila bagian yang satu sakit, bagian yang lain ikut merasakan.

sumber : http://madinatulilmi.com/index.php?prm=posting&kat=2&var=detail&id=107

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *