Ketulusan yang Tidak Terbaca

Ketulusan seolah sudah menjadi barang langka yang sulit ditemukan di hidup ini. Betapa mahalnya sebuah ketulusan untuk bisa diberikan dan didapatkan. Karena ketika mencoba melakukannya seringkali dipatahkan oleh dugaan yang keliru dari ketulusan tersebut. Rasa sakit pun terkadang terberi dalam Ketulusan, yang ikut menepikan nurani. Lalu haruskah mempertahankannya ketika terus dipatahkan?

Ketulusan layaknya membisu. Karena ketulusan tidak bersuara, ia bekerja dalam diam tapi memberi dengan sepenuh hati. Ia bekerja tanpa pamrih, melupakan dan tanpa mengerti arti meminta. Hanya memberi tanpa berharap diberi. Ia halus dalam kasat mata, tak tertangkap indera. Karena ketika menampakkan ketulusan itu, maka akan mengurangi arti ketulusan itu sendiri. Maka ia mengendap-endap dalam sunyi, melangkah dan memberi dalam gelap yang tidak engkau sadari.

Terkadang bagimu ketulusan terlihat lugu. Walau terkadang ketulusan adalah sesuatu yang lugu. Tapi ia keluguan yang cerdas. Mencerdaskan hati, mencerdaskan jiwa dan juga mencerdaskan bagi siapa yang tersentuh akan ketulusan itu. Ia lugu, karena ketulusan adalah sesuatu yang jujur, murni, tak menutupi, luruh apa adanya. Ia adalah sesuatu yang begitu halus dan lembut sehingga tidak terasakan ketika ia sedang bekerja. Hingga akhirnya….

Seperti Rasulullah saw yang menyuapi makanan kepada pengemis buta yang walau senantiasa menghardiknya. Memberi makan dengan tulus, menghaluskan setiap makanan yang hendak disuapinya. Dan ketika Rasulullah saw meninggal, seketika itu pula digantikan oleh Abu Bakr. Pengemis buta itu pun berteriak menolak, “Engkau bukan orang yang biasa menyuapiku. Orang yang biasa menyuapiku selalu menghaluskan makanannya hingga terasa dengan mudah dimulutku”. Abu Bakr pun menangis menjelaskan kepada pengemis buta tersebut. “Orang yang biasa menyuapimu ialah Rasulullah saw, dan kini ia telah tiada”. Menangis tersedulah pengemis tersebut, dan akhirnya ia pun bersaksi, “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad Rasulullah”.

Walau tidak mudah, ketulusan yang sejati akan terus bekerja walau terus dipatahkan oleh dugaan-dugaan yang bisa melunturkan kesejatiannya. Karena itu justru semakin menguatkan akar ketulusan tersebut, justru semakin menghujam dalam keharuan yang tidak terkira untuk dipertahankan. Semakin dalam ketulusan tersebut, maka semakin dalam pula bagi siapapun tak menyadari ketulusan sedang bekerja dan telah menghantarkan dan menumbuhkan mu menjadi lebih baik hingga engkau menyadari telah kehilangannya.

Disini ku masih menyadari bahwa ketulusan itu masih ada… ia adalah ketulusan yang tidak terbaca…. ketulusan yang bersandar kepadaNya.

Wallahu a’lam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *