Lampung in Journey 2

Menyambung perjalanan sebelumnya di lampung (baca : Lampung in Journey 1). Pada weekend ini saya sudah menargetkan ke mana saya berkunjung. Kebetulan pada pekan ke dua ini, training dilakukan kantor Bappeda Teluk Betung hanya berlangsung selama 4 hari. Mulai hari jumat sudah kosong, kalau pada pekan sebelumnya saya melakukan perjalanan pada hari ahad maka pada pekan ke dua ini saya melakukan perjalanan pada hari sabtu.

Rencananya pada pekan ke dua ini saya tidak akan berjalan sendiri. Karena kebetulan, walau jauh-jauh ternyata saya bertemu dengan rekan sekampus saya Helky (Helky Zunur), lulusan dari jurusan Bioteknologi. Katanya dia sedang kerjaan dinas selama 3 bulan. Tapi ketika dihubungi tidak nyambung-nyambung, maka saya memutuskan tidak berhalangan. Sementara rekan kerja saya, masih tidak mau jalan-jalan. Akhirnya kembali saya melakukan perjalanan sendiri seperti pekan sebelumnya. Ya saya kembali menjadi the lone ranger 🙂 .

Untuk pekan ke dua ini, tempat yang ingin saya kunjungi adalah pantai pasir putih. Ya tempat wisata ini saya rasa cukup dikenal bagi para masyarakat baik dari lampung ataupun luar dari lampung. Saya pun penasaran dengan pantai pasir putih ini. Karena untuk di Jakarta sendiri tidak ada pantai 🙂 , kecuali di pinggir Jakarta, dan sekalinya berkunjung ke pantai biasanya sudah tidak layak untuk dijadikan tempat wisata karena airnya yang sudah tidak jernih, maka saya berniat untuk ke pasir putih.

Akhirnya saya berangkat dari penginapan di Tanjung Karang, pagi sekitar jam 9.15 WIB. Karena tujuan sudah ditentukan, tapi belum tahu ke sana naik apa, maka saya berbincang-bincang dengan seorang tukang becak. Katanya saya harus menuju terminal Teluk Betung dahulu. Untuk meyakinkan, saya kembali berbincang-bincang dengan seorang ibu kaki lima yang berada di dekat Plaza Lotus. Katanya saya harus berganti kendaraan umum hingga tiga kali. Yang pertama katanya naik angkot warna merah di terimal teluk betung, setelah itu naik bis kuning ke terminal panjang, terakhir baru naik angkot warna hijau ke pasir putih. Dalam hati (waduuh.. ini angkutan umum atau pelangi 🙂 ). Yo wis…

Untuk sampai ke terminal teluk betung hanya sekitar 15 menit. Lalu saya menyambung naik menuju ke terminal panjang. Kali ini cukup lama mungkin sekitar 30 menit. Tapi ternyata saya kelewatan dari terminal panjang. Saya kira kendaraan yang tuju akan berujung pada terminal, tapi ternyata melewati. Akhirnya saya pun turun dijalan, karena memang kendaraan yang menuju ke pasir putih menuju jalan yang sama. Sambil memperhatikan sekeliling di kendaraan. Jika saya perhatikan, perjalanan ke pasir putih ini sebenarnya merupakan perjalanan ke arah balik pelabuhan bakauheni. Dan memang karena pasir putih ini berada di kawasan lampung selatan.

Sesampainya di pasir putih. Saya dikagetkan karena suasananya sangat sepi. Saya hampir tidak percaya, apakah saya salah turun. Untuk meyakinkan saya langsung menuju warung terdekat sambil bertanya. ”Permisi Bu. Apa ke sana itu pasir putih?”. ”Iya”. ”Kok sepi ya?”. Jawabnya, ”Biasanya hari minggu baru ramai. Kalau hari biasa nanti siang agak ramai”. ”Ooh..”. Mungkin saya kepagian. Saya sebenarnya ragu-ragu apalagi saya merasa satu-satunya pengunjung. Tapi, ya kembali dengan pede-nya saya menuju gerbang sambil melihat tiket masuk sebesar 8 ribu untuk orang dewasa.

Ternyata memang benar, sangat sepi. Saya memperhatikan sekeliling. Saya melihat dari kejauhan, ada satu keluarga yang berlibur dengan anak-anak kecilnya bermain disisi pantai. Memang saya akui, pantainya memiliki pasir yang putih. Tapi belum sampai saya ke pinggir pantai saya sudah ditawari untuk menyeberang ke pulau seberang naik perahu. Karena kebetulan sedang ada perahu yang menuju ke sana. Akhirnya saya iyakan. Saya pun naik perahu sebagai satu-satunya pengunjung. Sambil bercengkerama dengan pemilik perahu, nama pulaunya adalah pulau condong, menawarkan pemandangan yang berbeda katanya.

Ya sambil menikmati pemandangan laut dari perahu, merasakan hembusan angin. Melihat kapal-kapal yang sedang berlayar. Sesekali saya celupkan tangan saya di tengah-tengah perjalanan. Sebuah suasana dan pemandangan sangat jarang saya lakukan jika di jakarta. Dari jauh saya sudah bisa melihat pulau yang menjulang tinggi.Pada akhirnya tiba di pinggir pulau. Saya pun menggulung celana panjang saya agar tidak terkena air, tapi percuma ombaknya yang cukup besar mengagetkan saya hingga membasahi celana panjang saya hingga ke lutut.

Saya di pulau itu hanya setengah jam. Saya tidak berhasil mengelilingi pulau tersebut dengan menaklukan karang-karang yang besar dan licin, karena memang cukup luas. Sementara perahu yang saya tumpangi akan kembali lagi. Akhirnya saya kembali ke pantai pasir putih. Dan memang semakin siang, semakin bertambah pengunjung. Saya pun menyusuri sisi-sisi pantai melihat orang-orang yang sedang bermain dengan air. Memandang jauh ke depan, sesekali saya lempar batu keping, seberapa jauh batu itu melayang menyentuh air.

Sebelum memutuskan pulang, saya sholat zhuhur dan makan siang. Makan sambil memandang ke depan yang dimana sejauh mata memandang hanya air dengan gelombang ombak yang menggulung. Sebuah pemandangan yang subhanallah…Ya, walau di perjalanan ini saya sendiri. Tapi saya bercengkerama dengan alam, bercanda dengan angin yang menghembus rambut dan menyentuh kulitku. Melihat ombak yang saling berkejaran dan melihat daun yang melambai. Merasakan kebesaran ciptaanNya.

OK, ini perjalanan penutup di sela-sela selama saya di lampung. Selanjutnya saya akan berada di tempat yang berbeda. Dimana itu?

3 tanggapan untuk “Lampung in Journey 2

  • 27-05-2009 pada 11:45
    Permalink

    Dear Mas Fachri,
    I am a lady who’s traveling Lampung at this moment, n webpage mu ini nolong aq bgt yg traveling sendrian, senengnya! Menurutmu mas – yg udah pernah – aman2 ajakan ngunjungi obyek2 wiasata Lampung tsb sendrian, cewe? Thx!

    Balas
  • 27-05-2009 pada 12:29
    Permalink

    Dear Ysaras. 🙂
    Lampung di sebelah mana? bandar lampung kah? atau lampung timur, utara. Klo masih kota bandar lampung msh lbh aman di banding daerah lampung laen, dlm arti ramai.. krn spt jkt.

    Klo cewe, hmm menurut saya alangkah baiknya dlm perjalanan ada teman-menemani. Klo pun nekad sendirian… jgn spt jln sendiri atau mencolok… bercakap-cakap ramah. Dan usahakan cari waktu ketika tmpt itu ramai dikunjungi. Krn kbnykan tmpt yg saya kunjungi pas sepi 😛

    Tetep menurut saya lbh baik membawa teman. Kira2 membantu ga ya?

    Balas
  • 27-05-2009 pada 12:30
    Permalink

    Bukannya nakutin… insya Allah aman. Tp kan, jakarta aja yg metropolis jg kadang2 ga aman. 😛

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *