Journey Notes South Korea (2)

Akhirnya saya bisa sharing mengenai perjalanan saya selama di korea (selatan). Sebenarnya sebelumnya saya berencana secara kontinu menulis, tapi entah selama di sana, sepertinya terforsir pada kegiatan lain. Jadi ini tulisan secara ringkas dan lengkap selama di korea. Alhamdulillah, saya dan temen2 yg sempat merasakan perjalanan ke dan di korsel, dibalik ada mumetnya juga 🙂 . Perjalanan ini sebenarnya merupakan bagian kerjasama antara Pemerintah Indonesia-Korea untuk membangun sebuah ICT Training Center di jababeka. ICT Training Center ini tujuannya (katanya) sebagai pusat pelatihan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bertaraf internasional yang ditujukan bagi para pekerja dan calon pekerja terampil di bidang TIK dalam upaya meningkatkan kualitas, profesionalisme SDM Indonesia. Kerjasama ini sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama, tapi beberapa kali terhambat. Berita ttg ICT Training Center ini sebenarnya dipublish di media elektronik. Coba searching aja di google indonesia dengan keyword ICT Training Center.

Dari UAI diwakilkan oleh Pak Rusdianto Rustam, Rahman Pujianto, Nur Arifin dan saya sendiri. Perjalanan dijadwalkan selama 3 minggu. Kami dibagi atas bidang konsentrasi. Pak Rusdianto dan Ipin di bidang Networking, Rahman ke bidang Programming (java), dan saya sendiri Client-Server Management. Pelatihan diadakan secara private 2 orang yg di isi oleh Professor sesuai bidangnya masing2. Karena berdua, jadi saya dan rahman mendapat masing2 rekan dari ITS.

Jadi selama 21 hari (3 minggu), terhitung pelatihan diadakan setiap pekan ada 3 kali(seharian). Jadi selama 21 hari itu kami ada 9 pertemuan, dan sisanya kami melakukan field trip, cultural act dan study tour. Total tempat yg dikunjungi mungkin sekitar 24 tmpt 🙂

Untuk universitas yang sempat kami kunjungi yaitu : Choongang Computer Institute, Sejong Cyber University, Soongsil University Computer, Korean Polytechnic University. Pada institusi yg di kunjungi tersebut, mereka melakukan presentasi mengenai operasional mereka, sistem yg digunakan. Selain itu juga ada Gyeonggi Women Development Center, yg merupakan institusi khusus wanita belajar mengenai IT dan bisnis. Ke semuanya selain mengadopsi pembelajaran secara langsung, juga memiliki e-learning. Yang dimana content2 nya sangat menarik. Ini didukung karena koneksi bandwidth mereka mencapai 300 Mb. Beberapa diantara institusi tersebut menyediakan belajar gratis bagi pengangguran. Ini dikarenakan mereka didukung langsung dari pemerintah.

Selain itu kami juga melakukan kunjungan ke beberapa perusahaan. Seperti Samsung Electronics, Hyundai Heavy Industry, Hyundai Motor Company, POSCO (Pohang Steel Company Organization), SK Telecom T-Hum (komunikasi), dan Digital Pavilion. Dalam beberapa kunjungan tersebut, kami diperlihatkan bagaimana SDM di Korea berkinerja, memahami perkembangan teknologi pada masa lalu di korea, sekarang yg digunakan dan inovasi teknologi masa depan di korea.

Selain itu juga belajar bahasa korea, ada latihan taekwondo, belajar alat musik tradisional korea, Nanta ‘cookin’ Theater (teatrikal musik+masak korea) dan juga belajar bikin kimchi (makanan khas korea). Kimchi adalah makanan wajib bagi orang korea, setiap hari -pagi, siang, malam- pasti ada kimchi. Padahal itu makanan yg “dihindari” dari sebagian rombongan Indonesia.. hehehe. Walau sebenarnya sangat sehat. Makanan di korea, kalo ga kecut, ya hambar. Klo ga hambar, ya kecut. Saya sempat ditawarin makanan oleh profesor yg katanya sangat enak, karena tertarik akhirnya saya ambil, tapi pas dirasain… hambar.. sama sekali ga ada rasanya… 🙂

Beberapa pelajaran yg di ambil selama di korea, baik dari segi culture, masyakarat dan teknologi, seperti. Orang korea termasuk orang yg ramah. Karena salah satu kebiasaan orang korea ketika berknalan dengan orang baru, maka setelah menanyakan nama, pasti setelah itu menanyakan usia. Karena itu mempengaruhi dalam mereka berbahasa dan bersikap. Karena itu kalo ada antara orang korea sedang berkomunikasi bisa diketahui mana yg lebih tua.

Dari segi lingkungan, korea adalah negara yg bersih beberapa kota yg sempat kami kunjungi… seoul, incheon, suwon, ulsan, pohang, gyeongju… bahkan kami sulit menemukan tempat sampah. Dalam lalu lintas pun memiliki keteraturan. Macet hanya ada di kota besar spt seoul, tp macetnya mereka teratur, tidak semrawutan dan hanya jam pulang kerja. Untuk sepeda motor bisa dihitung dengan tangan yg berlalu lalang. Polisi lalu lintas pun sedikit. Salah satu bentuk keamanan lalu lintas mereka, melalui kamera pengawas. Jika ada kendaraan yg melanggar, maka seketika kamera tsb akan mengambil gambar, lalu image processing plat nomor. Lalu memproses mencari alamat si pemilik, lalu dari kantor polisi mengirim surat tilang ke pemilik kendaraan tsb. Ke efektikan kerja mereka sangat terlihat. Salah satunya, jalan di dekat tempat penginapan kami, sore hari ketika itu sedang di perbaiki atau sejenisnya menggunakan kendaraan berat, hanya dikerjakan sekitar 5 orang. Dan esok paginya jalan itu sudah kembali mulus, seperti tidak ada penggalian.

Dari segi SDM, jam kerja orang korea umumnya adalah dari jam 9-6 sore. Tapi kebanyakan dari mereka dengan sendirinya melebihi dari jam kerja tersebut hingga malam, based on target dan bertanggung jawab, bahkan melebihi target. Klo kita sebaliknya, sblm jam kerja usai, udh buru2 pengen balik.. hehe. Daya tahan kerja mereka sangat bagus. Budaya kerja mereka mirip seperti jepang. Walau begitu salah satu bentuk kekurangan di korea, mereka mudah stress… sebagian besar mereka adalah atheis, muslim hanyalah minoritas. Masjid hanya ada satu di kota besar spt seoul yaitu di itaewon.

Korea bisa dibilang usia kemerdekaannya sama dengan Indonesia. Tapi mereka berkembang dengan sangat pesat. Bahkan industri2 mereka masuk industri kelas dunia, seperti samsung, LG, Hyundai. Dan sebenarnya sumber daya alam mereka kalah dibanding Indonesia. Salah satu industri yaitu POSCO (industri baja). Mereka sama sekali tidak memiliki bahan pengolahan, tapi itu semua mereka impor bahkan salah satu bahannya dari Indonesia. Tapi industri baja mereka masuk 3-4 peringkat dunia, jauh di atas krakatau steel yg kita miliki. Keterbatasan mereka justru membuat mereka terus berinovasi, kreatif. Ada satu tagline yg saya ingat sampai sekarang ketika berkunjung ke POSCO…

Resources is limited but creativity is unlimited

2 tanggapan untuk “Journey Notes South Korea (2)

  • 23-05-2010 pada 10:33
    Permalink

    menarik banget cerita anda, kutunggu cerita selanjutnya

    Balas
  • 23-05-2010 pada 12:36
    Permalink

    terima kasih, wah tapi saya sudah tidak di korea lagi. Mungkin share cerita lain ya 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *