Jika Esok…

Rasulullah saw bersabda, orang yang paling cerdas adalah orang yang paling sering mengingat kematian. Setiap waktu yang berlalu seakan menjadi langkah terakhir. Beramal untuk akhiratmu, bersikap terbaik untuk sesamamu. Matahari yang membuka hari selalu menjadi alasan untuk mengisi hari. Mengisi hari dengan segala sikap dan sifat yang sudah kita bawa sebelumnya, tanpa pernah menghiraukan apa yang akan terjadi esok. Membiarkan rasa sakit menjadi bagian yang kita beri untuk orang lain. Membiarkan rasa acuh menjadi kebiasaan yang terkadang tanpa terasa juga terberi untuk orang lain.

Matahari yang masih membuka hari memang menjadi alasan untuk menjalani hari dengan apa adanya. Menjalani sekedar mengikuti angin berhembus, membiarkan suara hati dikalahkan nafsu duniawi. Tapi pernahkah terbesit jika esok matahari sudah tidak dapat bersinar lagi. Pernahkah terbesit detik penutup hari ini, menjadi detik penutup usia kita juga. Pernahkah terbesit bahwa jika esok kita tak akan berjumpa dengan orang-orang yang sudah menyapa dan tersenyum untuk kita. Pernahkah terbesit bahwa jika esok kita kan kehilangan orang kita kasihi dan mengasihi kita. Pernahkah terbesit waktu yang berlari bersama kita harus berhenti karena ketetapanNya.

Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih membiarkan waktu berlalu tanpa arti. Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih berdiri disini terdiam tanpa pernah mengucapkan terima kasih dan rasa syukur. Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih terdiam jika ada yang bertanya kepadamu. Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih mengacuhkan suara hatimu perwujudan nuranimu. Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih melewatkan waktumu tanpa pernah memahami semua waktu yang berlalu untukmu. Jika esok tak pernah datang, apakah engkau masih belum bermuhasabah sebelum hari akhir datang menjemputmu.

Jika esok tak pernah datang, maukah engkau berjanji untuk dirimu sendiri untuk melakukan yang terbaik sepenuh hati kepada orang lain ketika detik itu memberimu kesempatan. Jika esok tak pernah datang, maukah engkau menemani dan mengingatkan ku bahwa umur kita terbatas.

Jika esok tak pernah datang, ah… apakah harus menunggu esok hari?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *