Berhenti Menulis

Entah, terkadang tangan ini lelah menulis. Lelah mengikat arti dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan. Terkadang tangan ini jenuh menulis dan membiarkan yang ada dihadapan dan dalam hati berlalu begitu saja. Lalu terbesit untuk menyimpan bendahara kata dalam hati tanpa mengeluarkannya ke dalam bentuk tulisan. Membiarkannya terhapus waktu, tergerus terbawa angin. Atau membiarkannya tersimpan tanpa ada yang mengetahuinya.

Ada kalanya gambar yang tertangkap oleh mata ini, kembali mengabur tak terlihat jelas lalu menghilang. Ada kalanya makna yang tertangkap oleh hati ini terlepas tak kembali lalu terlupa. Ah, adakah penulis yang tak pernah menulis kembali? Adakah penulis yang tak pernah bercerita, tentang isi hatinya, tentang makna yang terjaring melalui mata dan hatinya?

Menulis… terkadang bagi yang menulis merupakan rangkaian isi hati yang sayang untuk dilewatkan. Terkadang menulis layaknya bercerita tentang indahnya malam kepada sang malam itu sendiri. Terkadang menulis layaknya mengikat arti saat ini untuk kelak kembali dibuka, bahwa dulu ini sempat tertulis. Lalu tersenyum… Layaknya reuni dengan hati yang terlupa.

Tapi adakah yang berhenti…. Teringat akan Sayyid Quthb, penulis yang melahirkan karya monumental Tafsir Fi Zilal Al Quran. Seperti diketahui, Fi Zilal Al Quran ditulis oleh Sayyid Quthb saat berada di dalam penjara di bawah Gamal Abdul Nasser. Seperti layaknya menusia biasa, Sayyid Quthb pernah merasa dihinggapi perasaan lelah dan didera rasa putus asa. Pada saat itu, ia pernah hendak berhenti menulis, bahkan berhenti berpikir.

Dalam sebuah artikel yang ditulisnya, “Saat perjuangan begitu pahit, saya dihinggapi perasaan putus asa di depan mata. Saya bertanya pada diri saya sendiri, apa gunanya menulis? Apa nilainya makalah-makalah memenuhi majalah? Apakah tidak lebih baik kalau kita mempunyai senjata dan beberapa peluru lalu keluar menyelesaikan masalah? Apa gunanya duduk di meja dan berpikir?”

Tapi… suatu hari Sayyid Quthb membaca lagi tulisan-tulisannya sendiri yang telah lama ia buat. Beberapa prediksi, di antara tulisan tersebut ia temui menjadi kenyataan. Sebuah kenyataan yang membuat Sayyid Quthb tak berhenti menulis. Tak berhenti menghitung-hitung masa depan. Tak berhenti membangunkan manusia dan melakukan persiapan menyambut pertempuran yang akan datang. “Kekuatan kata-kata membuat saya terkejut. Mimpi-mimpi di masa lalu telah menjadi kenyataan yang bisa diraba kini.” ujar Sayyid Quthb.

Mungkin bagi penulis sejati, ketika ruang dan waktu menahannya untuk menulis.. ia akan tetap menulis. Atau ketika kelelahan menyergap, saatnya reuni dengan hati menyapa untuk kembali semerbak. Seperti penjara bukanlah tempat untuk berhenti menulis. Ketiadaan pena, bukanlah alasan untuk tidak menulis. Atau ketika kebenaran dihalangi kecurangan. Atau ketika cahaya di hati ditutupi kegelapan tirani.

Ya, menulis layaknya bercerita tentang malam kepada sang malam, menulis layaknya mengutarakan isi hati yang tersimpan untuk membuka yang tertutup. Menulis layaknya untuk diri sendiri tapi menyentuh hati yang lain… dan ketika lelah menyergap, kelak engkau akan kembali dibangkitkannya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *