Orang yang Allah ketahui kebaikan di hatinya berarti Allah menginginkan kebaikan untuknya, dan bila Allah menghendaki kebaikan baginya, Allah faqihkan dia dalam agama-Nya dan Allah berikan padanya ilmu tentang syariat-Nya yang tidak diberikan kepada seorang pun dari manusia.

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, Allah akan memfaqihkannya (memahamkan) dalam agama.” (HR.Bukhari, 71 dan Muslim, 1038).

Begitu tingginya derajat mereka yang faqih.

Lalu siapa mereka itu…?

Sufyan ats-Tsauri berkata :

ليس بفقيهٍ من لم يَعُدَّ البلاء نعمةً ، والرّخاءَ مصيبة

“Tidaklah dikatakan faqih seseorang yang tidak menilai cobaan sebagai sebuah nikmat dan kelapangan sebagai sebuah musibah.”(Siyar A’lamin Nubala, 7/266)

Berkata Mujahid bin Jabr رحمه الله:

“Seorang yang fakih adalah yang takut kepada Allah meskipun sedikit ilmunya, dan orang yang jahil adalah yang bermaksiat kepada Allah meskipun banyak ilmunya.”(Al-Bidayah wan-Nihayah : 9 / 255)

Abu Bakar At-Thurthusyi rahimahullah berkata :

ليس بفقيه من كان له إلى الله حاجة فنام عنها في الأسحار

“Bukanlah faqih seorang yang memiliki hajat kepada Allah lantas ia tidur di waktu sahur”(Ad-Du’a Al-Ma’tsur, h. 52)

Imam Asy-Syafi’i رحمه الله dalam kumpulan syairnya berkata :

“Orang yang faqih adalah yang beramal dengan perbuatan,
Bukan dinamakan faqih jika hanya fasih dengan lisan dan perkataan;..
Dan yang disebut pemimpin adalah yang memimpin dengan kelembutan,
Bukan dinamakan pemimpin hanya dengan banyaknya pengikut dan bawahan;..Demikian juga yang disebut kaya adalah orang yang dermawan,
Bukan dinamakan kaya hanya dengan sekedar banyaknya harta simpanan.”(Ad-Diwan, Imam Asy-Syafi’i)

Dan ciri orang faqih, selain berilmu adalah zuhudnya terhadap perkara dunia.

Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, beliau berkata :

“ Ingatlah! Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang orang yang benar – benar fakih. Yakni seorang yang tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, orang yang tidak pernah toleran terhadap orang yang bermaksiat, orang yang tidak pernah memberikan rasa aman kepada orang yang tertipu terhadap Allah, yaitu seseorang yang taat dan merasa amalnya diterima oleh Allah padahal ditolak, orang yang tidak meninggalkan Al –Quran karena membenci dan berpaling kepada yang lain. Sedangkan tidak ada kebaikan dalam ibadah apabila tidak disertai dengan fiqih, dan tidak ada kebaikan dalam fiqih andai tidak ada pemahaman.” (Al–Hilyah, Abu Nu’aim, 1 / 177 )

Tulisan Lain   Hassasiyah (kepekaan)

Hasan al-Bashri رحمه الله berkata,

“Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah orang yang zuhud kepada dunia dan sangat memburu akhirat. Orang yang paham tentang agamanya dan senantiasa beribadah kepada Rabbnya. Orang yang berhati-hati sehingga menahan diri dari menodai kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Orang yang menjaga kehormatan dirinya dari meminta harta mereka dan senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mereka.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, hal. 28)

sumber : https://abufatihibrahim.wordpress.com/2018/04/29/faqih-itu-zuhud/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *