Menulis dan Professor

Ada yang mengatakan bahwa menulis adalah pekerjaan yang tidak mudah. Kalau menurut saya, bisa iya dan bisa tidak. Banyak yang mendeskripsikan bahwa sesungguhnya menulis seperti layaknya kita berbicara. Memindahkan yang ada di kepala ke dalam bentuk tulisan. Seperti halnya berbicara, apa yang ada di kepala lalu kita lontarkan melalui mulut kita. Ya menulis pun juga seperti itu. Hanya saja mungkin menulis itu layaknya berbicara tapi lebih lambat.

Ketika berbicara, maka apa yang ada di kepala kita langsung kita keluarkan. Sedangkan kalau menulis, perlahan dan pelan sesuai dengan kecepatan memindahkan kata atau kalimat yang ada di kepala ke bentuk tulisan. Bahkan kalau menulis, kita masih mampu mengeditnya ulang dan juga berpikir lebih mendalam. Perbedaan “kecepatan” memindahkan yang ada di kepala ke bentuk suara atau tulisan ini terkadang yang dapat mengacaukan bagi mereka yang terbiasa bicara yang cepat. Karena kecepatan yang dikeluarkan berbeda dibanding ketika digunakan melalui tulisan. Seakan-akan yang sebelumnya terlintas dalam benak atau kepala kita tiba-tiba hilang entah kemana.

Dalam berbicara. Walau kita mudah berbicara, namun ada momen-momen tertentu kita akan berada pada posisi gagap berbicara. Misal, kita lebih mudah berbicara jika kondisinya seperti kehidupan sehari-hari. Namun ketika dihadapkan pada posisi berbicara di depan umum atau khalayak banyak dalam suasana tertentu, membuat kita mengubah “cara” berbicara kita. Tapi ada juga orang-orang yang mudah berbicara dalam posisi yang bagaimana pun juga.

Dalam menulis pun ada kondisi-kondisi dimana kita akan dengan mudah menulis, yaitu dengan mengalir begitu saja, karena memang itulah cara yang biasa kita menulis. Dan ada pula pada kondisi-kondisi tertentu kita akan sulit menulis, karena kita “dipaksa” menulis sesuatu yang tidak biasa.

Namun bagaimana mereka yang tidak terbiasa menulis sama sekali? jawabannya sebenarnya sama seperti pertanyaan, bagaimana mereka yang tidak terbiasa berbicara? caranya ya dengan banyak berbicara. Begitu juga dengan jawaban yang pertama, jawabannya ya dengan banyak menulis.

Tapi, jangan samakan bahwa mereka yang pandai berbicara akan juga pandai menulis. Karena kedua aktifitas tersebut memiliki momentum yang berbeda. Mereka yang pandai menulis, mungkin memang butuh waktu dalam memproses dalam setiap apa yang akan disampaikan kepada orang-orang lain. Sementara yang terbiasa berbicara, mungkin akan kesulitan karena ada perbedaan “kekonsistenan” antara berbicara dan menulis. Mereka yang mampu melakukan keduanya, bagi saya orang-orang yang terlatih.

Jadi, kita menjadi bisa, karena terbiasa dan dengan meningkatkan kebiasaan kita tersebut kita akan menjadi ahli. Itulah salah satu rahasia orang-orang sukses. Kebiasaan yang mereka lakukan lalu mereka tingkatkan hingga memiliki jam terbang tinggi melebihi orang rata-rata yang menyebabkan mereka menjadi ahli akan hal tertentu. Dalam sebuah buku populer namun sudah lama “The Tipping Point” karya Malcolm Gladwell menyatakan bahwa kalau anda ingin ahli dalam bidang tertentu, anda harus memiliki jam terbang sedikitnya 10.000 jam.

Kuncinya kalau ingin ahli dalam bidang/hal tertentu… jadikan kebiasaan kita, dan naikkan jam terbang kebiasaan tersebut melebihi orang rata-rata. Ya, bukankah karena itu gelar doktor/professor diberikan… mereka yang ahli karena memiliki jam terbang tinggi pada fokus bidang tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *