Tulisan yang Mengalir

Oke, ini tulisan bermodel diari ku setelah sekian lama ku tak menulis seperti ini. Mungkin sekedar mengendurkan aktifitas ku yang selalu berfikir logika. Terus terang sudah lama ku tak rutin mengisi blog ku. Mungkin sudah tiga bulan terakhir ini. Entah mengapa, tapi ku rasa karena perubahan aktifitas.

Perubahan atas sesuatu yang kita miliki, terkadang mempengaruhi aktifitas kita. Itu kurasakan sendiri. Walau segala yang pernah ku miliki, terkadang ku merasa aku merasa lebih baik ketika pada masa sebelumnya. Karena seharusnya, apa yang kita miliki pada akhirnya membuat kita lebih produktif, bukannya mencuri keproduktifitas kita. Ya, itulah yang kurasakan. Walau begitu, ku berharap bisa menyesuaikan dari yang kita miliki untuk menjaga yang terdahulu dan meningkatkan

Dan kali ini, sekedar mengendurkan cara berpikir ku sebagai seorang pria. Ya seorang pria, selalu di dominasi pemikirian yang kaku dan logika. Ku sengaja menulis dengan mengalir. Karena ku termasuk orang yang merencanakan sesuatu. Jadi untuk kali ini, menulis seperti ini menghilangkan sifat ku yang seperti itu.

Ya, ku sekedar mengganti suasana hati ku dengan melakukan cara yang berbeda. Salah satunya yang aku lakukan…adalah membaca novel. Sebenarnya novel bukan benda asing bagi ku. Hanya saja, mungkin beberapa tahun terakhir, mmm sekitar 2 tahun mungkin aku tidak membaca novel lagi. Awalnya pun aku tak tertarik membaca novel, bukan tidak suka, hanya saja bagi ku membutuhkan waktu untuk membaca sebuah buku yang ketebalannya tidak sedikit. Dan aku dikenal sebagai orang yang sangat strict dengan waktu. Hehehe.

Adanya pameran buku, kali ini ku menganggarkan untuk membeli novel. Oh ya, novel pertama ku itu “Ayat-ayat Cinta” karangan Habibburahman El- Shirazy. Walau sebenarnya, kalau ku ingat-ingat bukan novel pertama yang ku baca. Bahkan sebenarnya novel yang pertama ku baca itu dari novel luar. Walau sebenarnya aku termasuk sangat jarang membaca buku novel asing. Kalau tidak salah ingat, judul novel tersebut adalah “Cinta yang Terlambat” karangan Dr Ikram Abidi. Itu pun karena disodori seorang teman. Seketika ku membaca, membawa perasaan ku terlarut 🙂

Baru setelah itu ku mencoba membaca novel karangan Kang Abik. Sungguh mempesona. Setelah itu barulah ku mulai tertarik pada novel. Walau tetaplah aku seorang pemilih. Tidak semua novel mampu ku baca. Aku masih sangat memikirkan kalau itu novel asing. Walau sungguh aku ingin membacanya. Semoga diberikan kesempatan dan tentunya juga rejeki, amiiin. Tapi ku akui, membaca novel merupakan aktifitas yang mengimajinasi. Karena itu aku selalu salut dengan para pembuat novel. Kemampuan mereka berkonsentrasi yang pada akhirnya tercipta alur yang menarik, menggirring pembaca pada suasana dan terkadang kesimpulan yang ternyata bukanlah itu. Apalagi dengan segala penokohan yang harus membuat setiap karakter menjadi hidup. Mengagumkan bagi ku.

Sebagai seorang yang sangat suka membaca. Membaca novel merupakan aktifikas yang menghaluskan jiwa. Ya bagi seorang yang selalu bergelut pada bidang eksakta (komputer / IT). Hal ini aku merasa perlu dilakukan. Sudah terlalu banyak buku ku. Karena memang aku sangat suka membaca, apapun itu selama aku membutuhkan, maka aku akan membacanya. Tapi masih sangat jarang yang bersifat novel.

Oh ya kembali ke pameran buku. Ada beberapa buku yang ku beli. Aku setiap ke pameran buku tidak cukup hanya sekali. Itu memang kebiasaanku. Biasanya ku selalu merencanakan untuk hari perdana sebagai survei buku dan harga, walau terkadang tetap saja membeli, hehehe. Paling banyak ku dalam 1 pameran buku, ku melakukan kunjungan 2 kali. Atau sedangnya 3 kali. Hari pertama survei. Hari kedua mulai beli yang ringan-ringan. Hari ketiga memutuskan final buku yang ku butuhkan. Yak, begitulah. 🙂

Dan untuk kali ini, salah satunya aku membeli sebuah novel. Dari survei pertama akhirnya ku memutuskan membeli karangan Kang Abik. (Ini adalah buku yang ku beli pada kunjungan yang kedua. Rencananya aku akan kembali, dan memutuskan untuk ada yang ku beli lagi.) Karena sudah tidak diragukan penulisannya. Selalu membuat aku tertarik membaca. Karena ku tak suka gaya bahasa yang terlalu berat, karena akan membuat terkesan tidak mengalir. Walau terkadang gaya bahaya tulisan ku seperti itu.. hehehe, tapi aku kan bukanlah novelis. :p

Pada novel ketiga ini. Lagi-lagi kang abik terinspirasi dari ayat al quran. Seperti ke dua novel terdahulunya (ayat-ayat cinta dan ketika cinta bertasbih). Kedua nya pun terinspirasi dari ayat quran. SubhanaLlaah. Ingin rasanya seperti itu.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *