Catatan Perjalanan Palu

Akhirnya saya baru menyelesaikan tulisan mengenaiĀ  perjalanan di Palu šŸ™‚ Bulan April lalu untuk kedua kalinya saya ā€œberkunjungā€ ke Palu, Sulawesi Tengah. Lebih tepatnya dinas dari kantor. Jika pada tahun sebelumnya saya hanya 1 seminggu menetap di Palu, untuk tahun ini saya menetap 2 minggu. Hanya saja, ketemu weekend-nya hanya sekali.

Penerbangan dari Bandara Soekarno Hatta ke Bandara Mutiara milik Palu hanya ada 1 penerbangan jika menggunakan maskapai Garuda Indonesia. Sementara maskapai lain ada yang lebih dari sekali, tapi kebanyakan hanya sekali. Mungkin karena Palu belum menjadi tujuan utama para pengunjung untuk daerah Indonesia Timur. Untuk berangkatnya hanya ada jam pagi tiba di Palu menjelang sore. Perjalanan sekitar 3 jam termasuk transit di Makassar sekitar 30 menit.

Bandara mutiara di Palu termasuk kecil dan sedang berkembang, dibandingkan tahun 2011 ketika saya perhatikan bandara mutiara sedang berbenah, banyak pengembangan bangunan di sekitar bandara.

Untuk tahun ini alhamdulillah saya berkesempatan menginap di Hotel Swiss bell. Karena tahun lalu, kebetulan pada saat saya datang, di Palu sedang ada acara kunjungan partai politik yang menyebabkan saya hanya mendapatkan hotel sisa, bahkan hampir tidak dapat hotel.

Hotel swiss bell di Palu menurut saya hotel yang paling menarik, karena terletak disisi pantai. Di hotel ini ada 2, yang disisi pantai atau yang berbentuk seperti perumahan/kompleks. Tentu saya mendapatkan kamar yang langsung berhadap dengan pantai. Dan kebanyakan para pendatang menjadikan hotel swiss bell menjadi tujuan menginap, karena kebanyakan maskapai seperti pilot dan pramugari yang melepas lelah mereka menginap di hotel swiss bell.

Palu termasuk kota yang kecil dan sepi. Hanya ada 1 mall disini, yang disebut Mall Tatura. Cuacanya pun cenderung panas dan terik. Kalau sudah di Palu, rasanya kurang klop jika belum makan makanan khas Palu. Makanan khas Palu itu Kaledo, namun sebenarnya bukan khas wilayah Palu, melainkan kota tetangganya yang di kenal Donggala. Karena kepanjangan kaledo adalah Kaki Lembu Donggala. Iya, kaledo menggunakan daging lembu khas donggala berupa sup yang rasanya memang enak. Harganya sekitar 30.000 satu porsi yang termasuk tulangnya, namun jika tidak termasuk tulang sekitar 15.000 satu porsi. Hehe jadi promosi

Selain kaledo, ada juga yang namanya binte. Binte juga makanan khas Palu. Sosoknya seperti sup jagung. Namun sayangnya saya tidak sempat mencicipinya. Namun sepertinya mirip seperti jagung yang disajikan ke dalam gelas /mangkok dengan kuah sup :p

Menurut keterangan warga Palu, sebenarnya kota Donggala lah yang terlebih dahulu dikenal dibanding palu. Tapi konon, karena tidak menerima adanya pelabuhan di Donggala, maka Palu-lah yang dijadikan tempat pelabuhan, dan Palu pun terus berkembang dengan terdapatnya pelabuhan disana, banyak pendatang yang datang.

Yang paling menarik diPalu, adalah pemandangan antara pegunungan dan pantai sangat dekat. Ā Pantai yang sempat saya kunjungi pantai pasir putih. Sesuai dengan namanya karena memang pasirnya masih putih. Selain itu air pantainya masih bersih dan jernih. Ā Perjalanan menuju ke pantai pasir putih ini dari kota Palu sekitar 1 jam. Searah menuju ke kota Donggala. Selama perjalanan mata kita akan dimanja dengan pemandangan yang sangat indah, yaitu disisi kiri pegunungan yang hijau dan di sisi kanan pantai yang biru. Suasana yang sangat jarang kita lalui di kota-kota lain. Di pantai pasir putih kita bisa berenang, naik kapal sewaan, dan bahkan snorkling. Sangat indah.

Selain pasir putih, sebenarnya masih banyak yang dapat dikunjungi. Seperti wilayah pegunungan yang terdapat air terjun dan pemandian air panas. Selain itu, untuk pantai jika lebih jauh ada yang namanya pulau togean. Yang katanya jauh lebih menarik dan lebih indah dibandingkan pantai pasir putih. Ah, sayang tidak ke sana šŸ™

Palu juga dekat dengan kota konflik dahulu Poso, namun Palu termasuk kota yang aman dan nyaman. Walau terdapat beragam etnis tapi antar masyarakatnya baik-baik saja. Kota Palu akan terus berkembang karena saat saya disana banyak bangunan dan hotel-hotel dalam tahap pengembangan. Ā Semoga jika ada kesempatan bisa kembali ke sana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *