Belajar Memahami

Manusia adalah makhluk yang unik. Unik dalam segala hal yang terperinci. Tidak ada manusia yang sama dihidup ini, bahkan orang kembar sekalipun, mereka pasti memiliki perbedaan. Selalu ada beda yang terselip diantara manusia. Dan biasanya perbedaan tersebut menjadi sebuah tantangan dalam sebuah hubungan baik antar sahabat, pasangan dan keluarga.

Kebanyakan dari kita mengawali hubungan dengan menggunakan dan membawa sudut pandang pribadi masing-masing. Dan ketika sebuah hubungan sudah terjalin, maka disitulah terbangun satu tujuan yang sama, pemahaman yang sama. Karena kita cenderung dekat dengan orang-orang yang memiliki kesamaan. Walau sama-sama memiliki kesamaan, suatu saat akan menampilkan perbedaan yang mungkin menggeserkan kesamaan tersebut.

Ketidaksamaan itu yang kita sebut perbedaan. Perbedaan yang memperlihatkan adanya selisih antara kita dengan orang lain. Selisih dalam arti sama halnya dengan matematika. Pertambahan dan pengurangan. Ketika kita bertemu dengan orang yang memiliki kelebihan dengan kita, maka kita menemukan selisihnya dengan kekurangan kita. Begitu juga sebaliknya, karena setiap orang tidak ada yang sempurna, masing-masing membawa sisi yang menyilaukan dan kelam yang pada akhirnya bertujuan menggenapkan pribadi kita.

Tapi, kerapkali perbedaan itu benar-benar menjadi selisih. Selisih yang memperselisihkan. Ketika beda yang hadir tak mampu diterima. Ketika beda yang hadir menginterupsi ketidaknyamanan kita. Memang ketika hal tersebut hadir, mungkin serasa sulit merintangi dalam kebersamaan. Ah, maka ruang belajar perlu selalu dihadirkan dalam setiap beda. Karena beda, terkadang adalah suatu hal yang belum kita pahami secara menyeluruh.

Beda, bisa menjadi pelengkap, bisa pula menjadi pemisah. Yang membuat berubah fungsi dari perbedaan itu adalah menempatkan di ruang mana ia berada pada posisi kita. Berhati-hatilah meletakkan perbedaan itu pada ruang yang mencolok, lalu melahirkan ketimpangan, ketidakseimbangan. Tapi, jika beda ditempatkan pada ruang yang tepat, maka ia melahirkan keseimbangan dan menjadi pelengkap yang justru menyempurnakan dan menguatkan.

Belajar memahami bukanlah suatu hal yang mudah. Karena manusia, cenderung untuk mengeluarkan ego masing-masing. Kesadaran memiliki tujuan yang sama yang mampu mengakrabi ke-ego-an tersebut untuk diredakan bahwa langkah kita seirama, tujuan kita serupa, dan tak seharusnya terpisah. Maka, yuk kita jalan ke sana (lhooo…)

Teringat yang dikisahkah oleh Ust. Fauzil Adhim dengan istrinya. Beliau berdua adalah pasangan yang memiliki karakter yang berbeda. Dari kemampuan hingga kekata, karena memang keduanya lahir dari latar belakang yang berbeda. Pernah suatu ketika, istri beliau berkata “bunuh lampu itu!”. Ust. Fauzil Adhim yang mendengar kata “bunuh” awalnya mewujud kaget. Karena kekata tersebut tidak lazim digunakan selama beliau tumbuh dan berkembang. Tapi perlahan, dengan meluaskan pengertian dan berbagi pemahaman mewujud kemampuan belajar memahami antara beliau berdua. Keseimbangan dan keharmonisan jiwa pun tercipta. Subhanallah.

Ada beda-beda yang mungkin bisa menjadi berubah, tapi ada pula beda-beda yang lebih baik menjadi apa adanya. Layaknya pakaian, masing-masing kita pun memiliki ukuran yang berbeda. Tidaklah mungkin mengukur badan orang lain dengan badan kita sendiri. Ya, kita memiliki ukuran-ukuran yang tidak serupa. Kita memiliki latar belakang yang berlainan. Ada kalanya manusia adalah tetap apa adanya. Bukan untuk dibandingkan, bukan untuk dipaksa berubah. Ada sisi-sisi yang tetap menetap karena memang sudah mendarah daging sejak dini. Kemampuan memahamilah yang mampu membawa beda tersebut menjadi potensi yang teroptimalkan dalam kebersamaan.

Ah, lihatlah sehabis hujan menyemarakkan. Mereka adalah pelangi. Layaknya pelangi, mereka warna-warni, mereka berbeda-beda. Tapi masing-masing warnanya tidak saling mencolok. Mereka berada pada komposisi warna yang sama. Apa jadinya jika di salah satu warna pelangi itu mencolok dibanding yang lainnya. Bisa jadi tidak mewujud pelangi, mungkin malah seperti cat yang tumpah tak karuan.

Kerikil pasti akan menguji atas sebuah kebersamaan. Layaknya ujian, hadirnya hanyalah untuk mengetahui apakah kita layak untuk naik tingkat. Jika kita berhasil melalui kerikil yang pertama, maka ada sejenis kemantapan yang semakin menguatkan. Tapi, kerikil kedua, ketiga dan seterusnya akan berada didepan untuk kembali menguji. Eratkan jalinan jiwa, bahwa semua bisa dilalui bersama.

Ya, begitulah perbedaan. Membutuhkan kemampuan untuk belajar memahami. Bukan hanya sekali, bukan hanya dua kali. Tapi berkali-kali. Karena beda selalu mungkin akan tiba-tiba mengejutkan dan mengagetkan dalam perjalanan kebersamaan. Tapi ia bukan untuk dihindari, bukan untuk ditakuti. Ia untuk diterima, diayomi, lalu ditumbuhkembangkan agar menjadi harmonisasi yang menyeimbangkan dan menguatkan diantara kita.

*Maafkan aku jika beda itu terlihat mencolok, tapi ku belajar memahami…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *