Manusia No 2 (cerpen)

-Senja-

Di sebuah sudut kamar, sunyi senyap. Gadis berkerudung hijau, menekuk kedua lututnya. Kepalanya tertunduk. Matanya lembap, dadanya bergemuruh. Ia terisak… payah…payah sekali.

” aku tak terpilih” sesalnya. Ia kesal, tak pernah sebelumnya ia menangis sehebat ini. Apapun kesusahan yang menimpanya. Ia selalu tegar, tapi kini… Ia mahluk paling cengeng di muka bumi.

Hatinya hancur berkeping keping, sayapnya patah. baru kali ini ia rasai, penolakan. PENOLAKAN. Kata yang tak pernah terlintas di benaknya… kini jadi bagian dari kepingan kenangan hidupnya.

Berat tak sanggup ia menanggunnya…

“Cintailah orang yang kamu cintai sewajarnya, karena boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kau benci. Bencilah orang yang kau benci sewajarnya, boleh jadi suatu ketika ia menjadi orang yang paling kau cintai”.


-Kemarin-

Meura gadis paling ceria, Jilbab hijaunya berkibar mengiringi langkah ringannya. keputusan tepat. Ia memilih meninggalkan manusia no 1 yang selama ini memasungnya dalam kata PENANTIAN. lalu ia belajar membuka hatinya untuk seseorang

seseorang yang ia anggap istimewa, seseorang yang ia pikir menunggunya di sana. Di ujung jalan harapannya.

Betul !!!
Manusia no 2 menantinya.. Tapi bukan hanya dia
Ada 3 orang gadis lain disana, mereka berempat di masing masing arah mata angin dengan warna jilbab yang berbeda

Meura berdiri di utara, berlawanan arah dengan arah terbit matahari yang selama ini menaunginya. meura tak terlihat. Manusia no 2 hanya meliriknya sekilas, menatapnya sejenak. Tatapannya ragu kemudian berpaling

Meura Rapuh, nasibnya lebih buruk kini, tak sekedar menanti. Ia juga harus berusaha agar terpilih.

TIDAK!!! ia tak mau itu
Meura hanya ingin jadi satu-satunya.. the one and only
Ingin rasanya ia berbalik arah, kembali ke penjara manusia no 1
Tapi ia bukan pecundang, tak baik menelan ludah sendiri

Sebelum manusia no 2 menentukan pilihan… meura tlah melarikan diri
” Aku tak terpilih”

-Malam ini-

Meura mengantuk, matanya tetap lembap.. sudah terlalu lama menangis. ia tak suka itu!!!
Energi patah hati mendorongnya bangun…seribu kali kau hancurkan hatiku, dua ribu kali aku bisa bangkit… Azzamnya pedih.!!!

Pluk, kakinya sakit, terkena sesuatu…Sebuah batu kecil dilempar kearah kakinya, lempar batu sembunyi tangan. “Perkenalan yang tak sopan” pikirnya apalagi tak ada seseorang pun disana..

Meura bingung, kenapa kini ia berada di tengah gurun pasir. Hanya Pohon beringin yang menaungi tanah tempatnya berdiri, benda berwarna hijau disana. Selainnya kering..
Apa ini gambaran hatinya?

” Kenapa kau menunggu disini, sudah merasa nyaman dengan keadaanmu sekarang?” Terdengar suara berat khas lelaki tetap tak ada wujudnya.
Meura penasaran ” siapa kau…, keluar kalau berani”
” tentu saja aku berani” Seseorang tinggi gagah muncul dihadapannya secara tiba tiba. Meura tak bisa melihat rupanya, Silau ada cahaya yang menghalangi

” Kau tak perlu tahu siapa aku, yang pasti aku ingin memberimu penawaran”
” Penawaran? seperti apa? apa untungnya bagiku”
” Dasar Egois, kau selalu menghitung untung rugi dirimu, selama ini apa kau pernah memikirkan untung ruginya bagi orang lain”
” Dasar ga nyambung, sudah jangan panjang lebar, apa penawaranmu?”
“baiklah, aku hanya ingin kau pergi ke tempat yang lebih baik, coba lihat sekelilingmu… cuma ada 1 pohon dan kau sendirian di tengah gurun ini”

Meura melirik sekeliling, diam diam membenarkan perkataan pria tadi dalam hati.

Pria misterius melanjutkan ucapannya” Mungkin saat ini keadaan masih sangat nyaman bagimu, tapi tidak nanti. kau butuh tempat berlindung yang lebih baik, yang lebih abadi, lebih indah. Dengan pepohonan hijau disana sini,
penuh bunga warna warni, dan kupu kupu yang asyik menari, oia satu lagi.. TEMAN… kau butuh teman. Selama ini kau sendirian dan sok tegar, padahal kau sebenarnya rapuh kan? sekali ditiup angin, aku yakin kau akan hancur… kenapa pula pura pura ingin menyongsong badai”

“fiuh dasar sok tau..” Batin meura ” humm… baiklah, boleh juga penawaranmu…cuma itu saja? oia kenapa harus kau yang kesini ? suruhan siapa? Namamu pun aku tak tahu?” Tanyanya

Pria itu tersenyum ” Tidak, bukan itu saja..Ke negeri itu butuh perjuangan, butuh keseriusan. namun aku yakin kau pasti mampu. Aku datangpun karena keinginanku sendiri. Karena suatu hari kita akan bertemu kembali, mengenai namaku panggil saja aku MANUSIA NO 3 ”

” humm…baiklah…siapa takut, kapan kita pergi”

” Kita? Maaf kau pergi sendirian, aku hanya akan memberimu petunjuk jalannya.”

Meura berpikir sejenak ” Oke I will try” kata kata persetujuan meluncur dari bibirnya. Pria misterius yang menyebut dirinya manusia no 3 berbalik badan, tugasnya hanya menanti persetujuan meura. Kemudian ia menghilang… Tanpa sempat meura bertanya

Apa petunjuknya? Dimana Negerinya? dan siapa Teman yang harus kutemui?

Cahaya kuning lampu neon menyilaukan matanya… fiuhhh…cuma mimpi…..

Hum…tp apa maksud perkataan Manusia no 3 tadi ya? dasar lelaki, bisanya cuma membingungkan.. meura berpikir keras mengingat potongan potongan dialognya dengan pria misterius itu. ketika melihat sekujur tubuhnya ia ingat sesuatu… Rupanya ia tertidur setelah lelah curhat panjang dengan Pemiliknya. Alquran mungil masih tergeletak terbuka… Surat An-Nur. Ia baru saja menyelesaikan bacaannya sampai ke ayat 35.

Allah adalah cahaya langit dan bumi…
Perumpamaan cahaya-Nya adalah ibarat misykat…
Dalam misykat itu ada pelita…
Pelita itu dalam kaca…
Kaca itu laksana bintang berkilau…
Dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati…
Pohon zaitun yang bukan di timur atau di barat…
Yang minyaknya hampir menyala-nyala dengan sendirinya…
Walaupun tiada api yang menyentuhnya…
Cahaya di atas cahaya…
Allah menuntun kepada cahaya-Nya…
Siapa saja yang ia kehendaki…
Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia…
Sungguh Allah mengetahui segala…

(QS : An Nur : 35 )

“Aku tahu..apa maksudnya Petunjuk Jalan, Negeri itu, dan teman yang harus kutemui”

Al quran dan Hadist… itu petunjuk jalannya…. Negeri —> Surga , dan teman –> orang orang shaleh…

Aku tahu…Aku tahu….

Jazakallah…Khairan…Katsiron… aku tahu..aku akan kesana…

-Esok-

Larilah dalam dua ribu langkah
merentas serpihan kenangan
lewat decak, kering angin dan rumput

kembali mengukur kefanaan
lewat nada yang kau lantunkan
dan nafas yang mulai hambar

sementara patahan semangat
membentang, tertidur bersama mimpi

jangan kau lipat cita dan cintamu meura
karna album itu milikmu
kau yang berhak mengisinya dengan rona rona kehidupan yang indah

semangat!!! Fastaqim Kama Umirta

Regard

Manusia no 3

-Epilog-

” Meura,
Kau lari sebelum waktunya berlari
Kau mundur sebelum waktunya mundur
seandainya waktumu lebih lama lagi…
Aku yakin kau lah yang kupilih”

* Manusia No 2

ditulis oleh : Aisyah Fika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *