Unfinished emotion merupakan sebentuk respons emosional terhadap apa yang kita persepsikan tidak adil yang terjadi di masa lampau. Bentuknya amat beragam, bisa berupa kebencian, kemarahan, sakit hati atau dendam.

Menurut Ernie Larsen, pada saat kita merasakan, menyimpan dan menahan emosi di masa lalu saat itulah terjadi suatu siklus unfinished emotion.

Dalam buku Dio Martin, Emotional Quality Management prosesnya adalah seperti ini : Mula-mula ada peningkatan persepsi mengenai ketidakadilan atau ketidaknyamanan yang mencetuskan amarah, benci, dendam maupun sakit hati. Kejadian inilah yang disebut unfair trigerred events. Selanjutnya akan muncul respons dalam diri kita yang menolak atau mempertanyakan, “Kok tega-teganya dia melakukan itu padaku”. Kecenderungannya, kita mengatakan yang membenarkan perasaan tidak nyaman kita dan menolak kejadian tersebut.

Selanjutnya, perasaan tidak nyaman berkembang menjadi energi kemarahan, kebencian dan dendam yang semakin akumulatif dan meningkat. Akhirnya dalam hati kita mengatakan, “Dendam ini akan saya bawa sampai mati,” atau “Tidak bakalan selamat dia”. Proses pembenaran terhadap ketidakadilan tersebut akan semakin menguat. Demikian seterusnya hingga siklus ini terus membesar menimbulkan medan energi yang semakin besar.

Unfinished emotion dapat terjadi karena manusia tidak segera atau tidak mau menyelesaikan permasalahan emosinya. Manusia tidak mau menerima masa lalu atau memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Emosi itu bertumpuk-tumpuk sedemikian rupa dalam waktu yang lama. Dalam waktu yang lama itu, manusia biasanya dapat bertahan karena ia melakukan mekanisme penyangkalan. Mekanisme ini berfungsi ibarat obat simtomatis yang hanya dapat meringankan gejala, tetapi tidak menyembuhkan. Ibarat obat simtomatis, cara ini efektif hanya sesaat dan sama sekali tidak menyentuh akar permasalahan. Kita seakan tidak belajar dari kehidupan.

Bentuk penyangkalan ini beragam. Pertama, represi, dimana kita menguburkan masalah dan berpura-pura tidak ada masalah. Ini adalah cara konyol yang hanya berujung pada penumpukkan masalah di alam bawah sadar kita.

Kedua, pengalihan dan penghindaran. Contohnya, menenggelamkan diri kita asyik membaca koran saat ada sesuatu yang harus dilakukan. Penghindaran terhadap masalah kecil hanya membuat masalah itu berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Dan saat itu akan semakin sulit kita mengontrolnya.

Ketiga, proyeksi. Hal ini terjadi ketika emosi kita memuncak dan melampiaskannya pada benda atau orang lain yang sering tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan permasalahan kita.

Keempat, perilaku menyamankan. Kita melakukan perilaku yang membuat kita nyaman untuk sementara. Yang paling sering adalah makan, ngemil, dan tidur, atau hal-hal kecil lainnya seperti menggigit pena.

Jadi, bagaimana untuk menghilangkan unfinished emotion ini? jawabannya pada tulisan selanjutnya aja ya 🙂 (menyusul kalau tidak kelupaan 🙂 ).

Happiness is not just the absence of pain, it’s also the capacity to learn from your pain.

The Way to Happiness, Arief Alamsyah

Related Posts
Mengelola Ketidaksempurnaan

Apa lagi yang tersisa dari ketampanan setelah ia dibagi habis oleh Nabi Yusuf dan Muhammad. Apalagi yang tersisa dari kecantikan Read more

Sayap yang Tak Kan Pernah Patah

Mari kita bicara tentang orang-orang patah hati. Atau kasihnya tidak sampai. Atau cintanya tertolak. Seperti sayap-sayap Gibran yang patah. Atau Read more

Walau Habis Terang

Berjuta langkah telah terlalui, silih berganti mewarnai nuansa jiwa. Terkadang ku merantau menjauh akan rasa sakit yang terberi. Tapi ku Read more

Ketika Ku Harus Pergi

Apakah waktu bisa berhenti? Ya ketika sudah tiba saatnya dunia ini berhenti berputar, maka itulah saat waktu sudah tidak menjadi Read more

Tagged : #

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *