Ramadhan, Sungguh Istimewa Hari-hari Bersamamu

Satu bulan telah dilalui. Bergelut melatih diri dalam ketakwaan mendekatkan diri kepadaNya. Walau mungkin terasa tak mudah, semuanya terasa nikmat ketika kita berhasil melewati waktu demi waktu, hari demi hari. Ada yang melewatinya dengan tilawah, ada yang dengan sedekah, ada yang tarawih, dan ada juga yang tertidur untuk menjaga diri ketika kalau keluar justru mengusik hati.

Ya, bulan Ramadhan adalah bulan dimana jiwa tersingkap dari segala debu dunia. Seakan kita bisa melihat potensi diri yang selama ini terselimuti emosi. Potensi diri yang selama ini terkikis dalam nafsu. Bahkan potensi diri yang dikatakan mampu melampaui malaikat. Subhanallah.

Mereka yang tenggelam dalam kesyahduan selalu dirundung rindu untuk mengisi detik-detiknya dengan penghambaan meraih ridhaNya. Penghambaan tidak selalu dalam sujud. Tapi penghambaan dalam kerja yang menjadi amanah. Penghambaan dalam belajar untuk mengisi waktu, menuntut ilmu lalu mengamalkan meraih mimpi akhirat dan dunia.

Kini, Ramadhan yang telah berlalu. Sedih dan haru sudah pasti terasa bagi mereka yang menikmati kesyahduan Ramadhan. Pasti sangat terasa kehilangannya. Dan kini di depan kita sudah ada 11 bulan yang menghadang hasil madrasah Ramadhan. Entah, apakah kita mampu melewatinya dengan menjaga fitrah diri yang sudah ditempa dalam Ramadhan. Entah, apakah kita malah terkikis kembali, ditutupi nafsu, disulut emosi atau diselimuti debu dunia.

Angka nol dalam mencerminkan fitrah diri yang sudah kita dapatkan, mungkin bisa menjadi satu, sepuluh, seratus atau mungkin seribu tanpa kita sadari. Angka-angka yang terakumulasi akan kesalahan yang tanpa disadari dibiarkan menggunung melupakan Ramadhan, melupakanNya. Karena sungguh, manusia adalah makhluk yang mudah lupa dan alpa.

Ramadhan, sungguh istimewa hari-hari bersamamu… Taqaballahu minna wa minkum… shiyamana wa shiyamakum

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *