Menulis

Ada yang mengatakan bahwa aktifitas menulis adalah aktifitas yang tidak mudah, tapi ada juga yang mengatakan bahwa aktifitas menulis adalah aktifitas yang biasa-biasa saja. Menurut Anda mana yang benar? Kalau menurut saya, menulis itu seperti halnya Anda melakukan aktifitas yang lain. Seperti bangun pagi, ada yang bangun pagi susah banget hingga harus dibangunkan dengan se-ember air, atau ada juga yang tanpa dibangun sudah bangun sebelum ayam berkukuruyuk, bahkan dia yang bangunin ayam supaya kukuruyuk :-).

Bagi saya sebenarnya menulis seperti halnya merupakan sebentuk kebiasaan. Bagi yang belum pernah menulis, seketika disuruh menulis, pasti akan terasa sangat susah. Tapi bagi yang sudah terbiasa, ya menulis seperti biasa-biasa saja. Nothing special. Ini dalam arti menulis biasa ya.

Seperti halnya aktifitas lain, bahwa dalam melakukan aktifitas kita perlu menentukan waktu, menyiapkan keadaan dan faktor-faktor agar aktifitas tersebut berjalan dengan baik. Seperti berolahraga, ngga mungkinkan kalau mau olahraga tapi punya baju yang ada cuma kemeja, celana bahan dan sepatu pantofel. Yang ada ketika mau olahraga, ditanya “Mau kondangan Mas?”.

Menulis pun seperti itu, ketika kita mencoba menulis sesuatu, ada faktor-faktor yang harus dipersiapkan. Ngga mungkin kan, lagi pengen nulis, tapi ngga tahu menulis apa. Akhirnya blank, putus asa, keringat dingin, masuk angin lalu Rhenald Kasali lewat sambil ngomong “Orang pintar minum to**k angin” (maaf break sebentar)… ah ngga separah itu kok.

Sebenarnya apa saja sih yang perlu disiapin sewaktu ingin menulis (maaf mungkin seperti waktu pelajaran SD mengarang). Ya mungkin ini dari pengalaman pribadi aja.

  1. Tentukan tujuan menulis. Mulai segala aktifitas dari tujuan. Kalau tujuan saya, menulis untuk mengikat ilmu, menulis bagi saya sudah menerapkan sebagian dari yang saya tahu.
  2. Tahu yang ingin ditulis.
  3. Siapkan peralatan pendukung (seperti alat tulis/komputer, bahan-bahan sumber rujukan/referensi).
  4. Kondisi eksternal yang kondusif. Maksudnya keadaan sekitar. Pengalaman pribadi susah mau nulis tapi keadaan sekitar lagi ada acara dangdutan. Udah ada yang berhasil?
  5. Kondisi internal pribadi yang juga siap.
  6. Terakhir saya biasanya menulis ditemani lagu atau instrumen irama. Walau terkadang antara lagu dengan isi tulisan ngga nyambung.

Bagi saya juga tergantung Anda ingin menulis apa. Menulis tulisan yang penuh perasaan beda dengan menulis modul buat pelajaran. Yang satu berperan di hati, sementara yang satu lagi berperan dari otak / pemikiran. Kalau untuk menulis yang sekedar yang ringan (aktifitas sehari-hari) ngga perlu pemikiran yang njelimet. Atau kalau ingin menulis puisi itu akan melibatkan hati. Kalau menulis modul/paper itu sifatnya ilmiah berupa pemikiran butuh ada referensi.

Jadi bagi saya menulis bukanlah aktifitas yang dipaksa. Walau mungkin perlu dipaksa bagi yang belum terbiasa dan ingin menjadi biasa. Karena terkadang menulis merupakan kebiasaan bagi sebagian orang. Orang yang sering membaca buku, biasanya juga suka menulis. Karena kalau bagi saya, menulis untuk mengasah hati dan pemikiran yang saya dapat, saya mencoba mengikat apa yang saya dapat ke dalam bentuk tulisan. Kebiasaan menulis dan membaca pada akhirnya akan membentuk gaya khas yang berbeda dari masing-masing penulis. Dari kosakata dan apa yang dibaca.

Ada cerita bijak antara psikolog Islam Ust. M Fauzil Adhim dengan Istrinya. Bagi istrinya menulis adalah aktifitas yang sangat sulit untuk dilakukan, itu adalah hal yang istimewa jika ia berhasil melakukannya. Sementara bagi Ust. M Fauzil Adhim, menulis seperti mengeluarkan yang ada di dalam hati ke dalam bentuk tulisan, sesuatu yang biasa saja. Tapi ternyata istri Ust. M Fauzil Adhim itu bisa membetulkan listrik, yang mana bagi Ust. M Fauzil Adhim itu adalah hal yang istimewa untuk dilakukan karena Ust. M Fauzil Adhim belum pernah melakukannya.

Jadi, kalau pada akhirnya Anda masih sulit (belum terbiasa menulis) itu bukan salah saya (lho yang nuduh saya siapa?). Karena setiap orang punya pribadi yang berbeda yang pada akhirnya mempengaruhi dalam membentuk kebiasaan. Tetaplah menjadi unik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *