Memaafkan dan Melupakan

Maaf adalah kata benda yang berarti ampunan. Diberikan kepada kesalahan, karena didorong oleh perasaan kasih, cinta, sayang, maupun tak tega. Ketika menjadi kata kerja memaafkan, maknanya sebuah tindakan yang penuh dengan kebijakan yang bernuansa kemanusiaan yang tinggi.

Lupa adalah kata keadaan yang berarti alpa. Semacam tanda kekurangawasan dari yang bersangkutan. Tetapi ketika menjadi kata kerja melupakan, mengandung makna melumpuhkan diri sendiri, sehingga seseorang menjadi alpa, tidak lagi ingat kepada sesuatu.

Memaafkan mengandung rasa mengampuni, tetapi tidak menjanjikan untuk bersedia menganggap itu tak pernah terjadi. Tetap menuliskannya di dalam sejarah, namun tidak lagi dengan luapan emosi yang normal. Peristiwa tersebut dilirihkan, dikendurkan, agar tak mampu menyentuh perasaan lagi.

Melupakan adalah seperti membatalkan kejadian. Tak hanya menghapus dari kenangan, tetapi juga mengeluarkan hal tersebut dari sejarah. Tapi di pihak lain, melupakan tak pernah mengampuni, tapi hanya ingin melenyapkan. Jadi memaafkan tak selamanya berarti melupakan. Namun melupakan, bila tak ada pernyataan secara formal, sebenarnya secara diam-diam memaafkan.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak akan terlepas dari hubungan dengan manusia lain. Memaafkan dan terkadang melupakan merupakan bagian dari kebutuhan hubungan sosial. Tanpa perasaan memaafkan, maka tidak akan berlangsung kehidupan manusia hingga saat ini. Niscaya akan ada banyak perselisihan yang tak kan pernah habisnya. Manusia sebagai makhluk yang berakal juga memiliki perasaan. Kedua potensi itu memungkinkan untuk memiliki sifat-sifat yang mulia, tapi juga sebaliknya. Kedua potensi itu pula dapat merendahkan manusia lebih dari binatang.

Rasa marah, kecewa adalah perasaan yang tidak dipungkiri dapat hinggap ke dalam hati setiap manusia. Rasa sakit yang ditahan, rasa kecewa yang kerap disimpan, keduanya bukan tidak mungkin justru malah akan menimbulkan penyakit hati manusia. Manusia tidak akan pernah sempurna tanpa kehadiran manusia lainnya. Rasa marah yang mungkin saat ini disimpan, pernahkah terbesit kehadiran, keberadaan, dan keberhasilan kita juga karena kehadiran manusia lainnya.

Memaafkan dan melupakan dilakukan karena tiada berguna menahan perasaan yang justru membatasi kita dalam bergerak. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena buat apa perasaan yang dimiliki justru malah menyempitkan hati. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena ternyata perasaan yang kita tahan membedakan perilaku kita sesama saudara. Memaafkan dan melupakan dilakukan karena jika ternyata emosi yang kita tahan lahir bukan karena Allah SWT.

Islam sebagai agama yang mulia pun mengatur hubungan antar manusia. Bahkan Rasulullah SAW tidak memperkenankan saudara sesama muslim menahan amarah yang melahirkan permusuhan. Dalam sabda Rasulullah SAW, “Tidak halal seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya (sesama muslim) lebih dari tiga hari. Barangsiapa memutuskan lebih dari tiga hari dan meninggal, maka ia masuk neraka.” (HR. Abu Dawud, 5/215, Shahihul Jami’ : 7635).

Abu Ayyub Radhiallahu’anhu meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal bagi seorang memutuskan hubungan saudaranya lebih dari tiga malam. Saling berpapasan tapi yang ini memalingkan muka dan yang itu (juga) membuang muka. Yang terbaik di antara keduanya yaitu yang memulai salam.” (HR. Bukhari, Fathul Bari : 10/492).

Sungguh, memang perasaan manusia terkadang menjadi perasaan yang tidak mudah dimengerti. Tapi Allah SWT memberikan manusia hati dan akal yang membuat manusia lebih mulia dari makhluk lainnya yang digunakan untuk memahami. Memiliki sifat memaafkan dikatakan sebagai sifat yang mulia. Karena dalam sifat maaf terhimpun sifat-sifat mulia lainnya. Hanya yang memiliki kesabaran dan kelapangan jiwa yang dapat memaafkan dengan tulus.

Kelembutan hati dan besarnya ruang jiwa yang diberikan akan melahirkan sifat pengertian yang tidak mudah dimiliki. Seperti halnya ketika Rasulullah SAW sedang duduk seketika ditarik janggutnya hingga memerah oleh seorang Arab Badui. Tetapi Rasulullah SAW tidak marah dan membalasnya. Atau ketika Rasulullah SAW dilempari batu oleh penduduk Thaif, yang bagi malaikat jibril sudah mengundang pedih dan menawarkan untuk menimpa mereka dengan gunung Uhud. Tapi, tahukah engkau jawaban manusia yang paling mulia ini? Rasulullah SAW tidak membalasnya dan menjawab, “Sesungguhnya mereka hanya kaum yang belum mengerti,” lalu Rasulullah SAW mendo’akan semoga mereka mendapat hidayah.

Tertunduk lemas hati ini jika bercermin kepada Rasulullah SAW. Sangat jauh dan betapa mudahnya membiarkan hati disempitkan oleh perasaan emosi yang datang dari syaitan.

Ya, di kehidupan ini menuju akhirat kelak, kita bukan hanya memerlukan untuk menjaga nama diperhatikan oleh makhluk langit, dengan beribadah semestinya. Tetapi kita juga perlu menjaga nama kita di antara makhluk bumi, agar ketika amal yang dilakukan tidak berkurang karena ada yang keberatan akan perilaku kita.

Maka… memaafkan dan melupakan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *