Ketika Bintang Tak Lagi Bercahaya

Setiap manusia pasti selalu mengikuti siklus kehidupan. Dari bayi menuju dewasa, dari dewasa menuju tua, hingga menjadi tiada. Dari yang tidak bisa melakukan apa-apa, hingga belajar memahami dan menambah pengetahuan menjadi sebentuk ilmu. Pemahaman dan ilmu pun seiring waktu bertambah. Dari yang ketika bayi tidak bisa melakukan apa-apa selain bergantung pada ibu. Hingga beranjak dewasa menjadi lebih kuat dan memiliki tanggung jawab.

Ada kalanya, peran kita bukan hanya sekedar ada,  tapi hadir kita untuk memberi arti dan berbagi makna dengan orang lain. Semakin besar kita dan semakin besar kekuatan yang kita miliki sesungguhnya kita memiliki tanggung jawab besar kepada orang lain. Tanggung jawab atas pemahaman kita, tanggung jawab atas ilmu kita, tanggung jawab atas kedewasaan kita. Bahwa apa yang kita miliki, entah sebentuk materi atau sebentuk ilmu, maka kita memiliki tanggung jawab untuk menyalurkannya dan melengkapinya dengan berbagi dengan orang lain.

Masa-masa kejayaan pun tidak terelakkan. Masa-masa dimana kita mampu berdiri sendiri, masa-masa dimana kita mampu bermanfaat dan berbagi untuk orang sekitar kita. Namun, pergantian masa tidak selalu menghadirkan keadaan yang sama, atau rasa yang sama dibandingkan masa sebelumnya. Ia akan berubah mengikuti sunnatullah bahwa tidak ada yang kekal abadi kecuali Dia. Kelapukkan adalah keniscayaan yang tak mampu dihindari bagi setiap makhluk ciptaanNya. Kehilangan adalah suatu yang pasti terjadi bahwa waktu tak pernah berhenti silih berganti mendatang kan dan membawa pergi yang pernah singgah.

Layaknya bintang, ia berawal dari partikel kecil yang terhimpun dari partikel-partikel kecil lainnya. Ketika kecil, cahaya yang dimiliki tidak terlalu terlihat dari kejauhan. Namun seiring bertemu dan berkumpulnya partikel-partikel kecil lainnya. Bintang itu pun menjadi besar dan besar. Cahaya yang dahulu sulit dilihat, perlahan menjadi mudah dilihat, dan menyinari untuk sekitarnya. Mengganti gelapnya malam dengan menghiasi langit-langit mengusir kelam. Namun, bintang tidak selamanya bersinar terang. Kelak, akan tiba masanya, cahaya itu meredup, menghilang dan berganti dengan bintang yang lain.

Begitu pula dengan kita, kita tidak akan berada pada posisi yang sama selamanya. Masa-masa kejayaan itu kelak tergantikan, tidak untuk selamanya.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *