Berubah

Berubah mungkin bisa dibilang kata yang mudah diucapkan tapi tak mudah diwujudkan. Karena berubah cenderung mengganti suatu keadaan menjadi keadaan yang berbeda. Bisa 90 derajat,120 derajat atau bahkan 180 derajat. Semakin besar rentang perubahan dilakukan, maka semakin besar terasa kesulitan menghadang. Karena didalamnya serasa melepas yang sudah menjadi bagian diri, seolah lalu kehilangan yang menjadi biasa dalam diri.

Berbicara perubahan, jika kita perhatikan, bahwa dalam hidup ini ada hal-hal yang dibiarkan akan berubah dengan sendirinya. Seperti siang berganti malam, kuat menjadi rapuh, muda menjadi tua, dan segala hal yang bagian dari momen satu waktu menuju momen waktu lainnya. Perubahan merupakan suatu keniscayaan yang tidak mampu dihindari. Ia akan menghampiri dan mengikuti kepada siapa yang merupakan makhluk ciptaanNya.

Walau ada yang berubah dengan sendirinya, ada pula yang perlu kita paksa untuk bisa merasai yang namanya kedewasaan, kematangan jiwa. Karena seperti yang dikatakan kebanyakan orang, menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa adalah pilihan. Ya pilihan, pilihan akan kesadaran diri, pilihan atas mawas diri. Karena ketika melepas diri apa adanya, maka layaknya mengalir tanpa arah, tanpa memberi arti untuk meresapi, tanpa mengambil ibrah atas waktu yang dilalui. Jika itu yang terjadi, lalu kemana semua waktu menjadi?

Dikatakan, perubahan akan terlihat lebih berarti ketika perubahan yang dituju untuk menjadi lebih baik. Dan lagi-lagi, seberapa besar arah perubahan dilakukan, maka semakin besar pula rintangan siap menghalau. Karena memang menjadi lebih baik bukan tanpa halangan, bukan tanpa duri. Kelelahan, kepenatan, dan mungkin luka pun akan memberi. Godaan yang membujuk untuk berhenti dan berbalik arah dari arah perubahan bukan tak sekali, bahkan berkali-kali walau sudah mendekati tujuan.

Maka, kunci meraih kekuatan dalam waktu menuju lebih baik salah satunya tersebutlah kesabaran. Kesabaran atas melewati waktu, kesabaran atas melawan lelah, kesabaran ketika merasa waktu tak memihak kita. Kesabaran akan mewujud menjadi tekad, berupa tekad yang menjaga, tekad yang mengantarkan bahwa arah yg lebih baik akan berakhir baik pula.

Terakhir, walau waktu dan perubahan terkadang terasa samar terlihat, kapan untuk melakukan perubahan. Atau merasa bahwa waktu dan perubahan terasa saling terikat berkaitan. Seperti, ingin berubah, tapi menunggu waktu yang tepat, atau ingin berubah tapi merasa waktu sudah terlambat. Jika seperti itu, mungkin tak kan terkisah sahabat-sahabat Rasulullah saw meraih kedudukan yang gemilang yang sebelumnya bergelimang dalam kejahiliahan yang tak tahu.

Terkisahlah…. seperti Umar ibn al khattab. Sang al faruq, yang masa lalunya jika diingat membuat hati terperih dan mata menitik air mata yang tak terperikan. Tapi ketika dan walau di umurnya 27 tahun, perubahan menjadi hijrah, perubahannya menjadi tertonggaklah akan cahaya dakwah yg sembunyi-sembunyi menjadi tegas dan terang terlihat. Menjadi pembeda antara yang terlihat dan yang tersembunyi dalam hati, walau sifat kerasnya pula menjadi ujian baginya hingga terukirlah menjadi salah satu kegemilangan sejarah pembawa rahmatNya untuk sekalian alam.

Yang baik terkadang memang pahit untuk dilalui, tapi sesungguhnya manis jika memaknai karenaNya. Berubah terasa awalnya merupakan kehilangan bagian dalam kebiasaan diri, tapi berubah bukanlah kehilangan, ia hanya mengganti yang lain menjadi suatu yang lebih baik. Semoga ini mewujud layaknya hijrah, yang mengubah keacuhan menjadi kepekaan, mengubah ketidakpedulian menjadi sebentuk perhatian, mengubah ketidaktahuan menjadi pengetahuan, maka tertuntunlah langkah-langkah ini layaknya jika digambarkan dalam grafik antara waktu dan prestasi, maka garis yg terlukis bukan lurus datar, apalagi melengkung ke bawah, melainkan melengkung ke atas meraih prestasi tertinggi ketika umur sudah terhenti.

Istiqamahkanlah kami ya Rabb.

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *